Qing Ming

05 April 2010

Hari ini 5 April. Dua tahun yang lalu, mungkin ini adalah hari istimewa yang patut dirayakan, tapi masa lalu tinggal kenangan. Yang pasti, 5 April selalu menjadi hari di mana umat Tiong Hoa memperingati leluhur mereka, atau dikenal dengan sebutan Cheng Beng.

Kemarin saat kelas Muda-mudi, Pandita Chen bercerita tentang asal mulanya peringatan tersebut, hal ini dikaitkan dengan kesetiaan dan bakti.

Cerita pertama, tentang seorang Cie Ce Tui (maklumi spellingnya). Pada masa kerajaan Cin, Raja Cin hendak membunuh anaknya yaitu Pangeran Cin. Lalu Pangeran kabur diikuti pengikut-pengikutnya yang setia. Lalu mereka bersembunyi di suatu tempat di luar kerajaan. Pangeran dan yang lainnya tidak punya makanan. Melihat Pangerannya kelaparan, Cie lalu memotong daging di pahanya dan dimasak untuk Pangeran. Pangeran makan dengan lahap, namun akhirnya ia sadar, mengapa begitu banyak pengikutnya yang kelaparan, tapi ia bisa mendapat sepotong daging? Akhirnya diketahui, Cie telah berkorban karena kesetiaannya pada Pangeran. Maka ia berterima kasih.

Suatu ketika, Pangeran pergi ke Kerajaan Ching, di mana rajanya memperlakukan ia dengan sangat baik, sehingga Pangeran merasakan kenikmatan dan tak mau kembali ke Kerajaan Cin. Cie merasa Pangeran salah. Ia adalah orang Cin, namun ia bersenang-senang di Kerajaan Ching. Cie membujuk Pangeran untuk pulang, namun ia tak mau. Sampai suatu hari Pangeran mabuk dan dibawa Cie pulang ke Cin.

Setelah kembali, Pangeran Cin diangkat menjadi Raja Cin menggantikan ayahnya. Pangeran Cin sangat senang dan berterimakasih pada Cie serta bermaksud memberikan jabatan tinggi pada Cie. Namun Cie selalu menolak saat rumahnya didatangi Pangeran.

Pangeran tidak putus asa hingga Cie kabur ke pegunungan untuk menghindar. Tak lupa ia membawa serta ibunya ke gunung. Gunung yang besar itu, sulit untuk mencari dan memaksa Cie untuk pulang dan menjadi pejabat. Akhirnya Pangeran Cin membakar hutan di gunung tersebut sehingga jika terancam Cia akan keluar hutan.

Hutan dibakar. Namun dibakarpun Cie tidak keluar. Ia memeluk ibunya di bawah satu pohon hingga keduanya tewas terbakar. Setelah dicari, Pangeran menemukan jenazah Cie memeluk ibunya. Hatinya begitu sedih.

Ia menggunakan kayu dari pohon tempat Cie tewas itu dibuat menjadi sepatu dan dikenakan setiap hari untuk mengenang Cie.

Dan juga, sebab Cie meninggal karena api, Pangeran memerintah seluruh rakyat, setiap tanggal itu, seluruh negeri tidak boleh menyalakan api dan memasak. Maka setiap Cheng Beng, biasanya masyarakat makan makanan yang dingin. Seperti sekarang ini saat sembahyang Cheng Beng, biasanya orang makan hidangan yang dingin.

Cerita kedua adalah asal mula papan nisan.

Ada seorang petani bernama Ding Lan (atau Ding Nan??) yang terus bekerja di sawah, Perilakunya kasar dan emosian, Ayahnya sudah tua dan tidak kuat bekerja di sawah, maka ayahnya hanya mengantarkan makan kepada Ding Lan.

Bila datang terlalu cepat, makanan akan dingin. Maka Ding Lan memukul ayahnya.
Bila datang terlambat, Ding sudah lapar. Maka Ding Lan memukul ayahnya juga.

Suatu ketika saat beristirahat, Ding Lan melihat anak gagak yang dapat merawat dan memberi induknya makan. Ia baru tersadar, ayahnya setiap hari mengantarkannya makanan, tapi ia masih memukul ayahnya. Bahwa ia kalah pada burng gagak.

Maka ia memutuskan untuk memperbaiki diri. Saat itu ayahnya bari datang, agak terlambat. Ding Lan meluhat ayahnya datang lalu berniat untuk menghampiri ayahnya dan bersujud mohon ampun. Dari sawah, Ding Lan lari ke arah ayahnya. Ayahnya takut setngah mati, takut dipukul Ding Lan sampai mati. Maka ia pun kabur. Sampai pada ujungnya di sungai. Ayahnya memutuskan untuk melompat ke sungai daripada dipukul mati anaknya sendiri.

Ding Lan begitu sedih dan ikut melompat mencari ayahnya. Namun tidak dapat ditemukan. Ia hanya menemukan sebuah papan kayu dan dibawanya pulang,

Ia sedih sekali dan berharap ayahnya ada dengannya. Maka ia menulis nama ayahnya pada kayu yang ia temukan di sungai, Setiap hari ia mempersembahkan makanan untuk papan itu yang ia anggap sebagai papanya. Sejak itulah, masyarakat penggunakan papan nisan untuk sembahyang.
 
in cloud cuckoo land. Citrus Pink Blogger Theme Design By LawnyDesignz Powered by Blogger